Bumi
Planet ketiga, satu-satunya dunia yang diketahui menampung kehidupan, dan satu-satunya yang memiliki air permukaan cair serta medan magnet yang cukup kuat untuk membelokkan angin matahari.
Buka Bumi di Penjelajah 3D →
- PlanetJenis
- 6,371 kmRadius
- 1.00 AUJarak
- 23.9 jPanjang hari
- 1.0 thnTahun
- 23.44°Kemiringan sumbu
Bumi adalah planet terpadat di tata surya dengan 5,51 g/cm³.
Bumi adalah planet ketiga dari Matahari dan, menurut setiap ukuran yang saat ini dapat kita terapkan, merupakan objek paling luar biasa di tata surya: satu-satunya dunia yang diketahui memiliki air cair di permukaannya, satu-satunya yang diselimuti atmosfer kaya oksigen, dan satu-satunya tempat mana pun yang dipastikan dihuni oleh makhluk hidup. Bumi adalah planet berbatu dengan diameter 12,742 km, mengorbit pada jarak kurang lebih 1 satuan astronomi, dan meskipun tampak sederhana di samping planet-planet raksasa gas, Bumi adalah planet terpadat di antara semuanya dengan kerapatan 5.51 g/cm³.
Yang membuat Bumi begitu istimewa bukanlah satu rekor tunggal, melainkan cara segelintir angka yang tampak biasa saja — jaraknya dari Matahari, kemiringan sumbunya sebesar 23.44°, jantung besi cairnya, dan rotasinya selama 24 jam — bergabung untuk menjaga permukaannya tetap sejuk, terlindungi, dan cukup basah agar sebuah biosfer dapat bertahan selama miliaran tahun.
Interior berlapis yang tak pernah diam
Jika Bumi dibelah, akan ditemukan empat lapisan yang saling bersarang. Di pusatnya terdapat inti dalam padat berbahan besi-nikel dengan jari-jari sekitar 1,220 km — lebih kecil daripada Bulan tetapi cukup panas untuk meleleh, tetap padat karena tekanan yang sangat besar. Di sekelilingnya bergolak inti luar yang cair, lalu mantel berbatu yang tebal dan berkonveksi lambat sedalam sekitar 2,900 km, dan akhirnya lapisan kerak yang tipis — hanya sekitar 5 km basal di bawah lautan, dan hingga 70 km batuan kaya granit yang lebih ringan di bawah benua-benua.
Kerak tipis itu terpecah menjadi susunan puzzle lempeng-lempeng tektonik yang saling bergesekan, menunjam, dan merenggang di atas mantel di bawahnya. Bumi adalah satu-satunya planet yang diketahui masih menjalankan tektonika lempeng semacam ini hingga saat ini, dan hal ini penting jauh melampaui bidang geologi: subduksi mendaur ulang karbon di antara batuan, lautan, dan udara, bertindak sebagai termostat planet yang telah menjaga iklim tetap secara umum laik huni sepanjang masa yang sangat panjang. Panas interior yang sama juga menggerakkan gempa bumi dan gunung berapi yang terus-menerus membentuk ulang permukaan planet ini, itulah sebabnya Bumi — tidak seperti Bulan atau Mars — hanya memiliki sedikit sekali kawah tumbukan purba.
Perisai magnetik
Besi cair yang berputar-putar di inti luar, diaduk oleh konveksi dan rotasi Bumi, bekerja sebagai geodinamo yang mampu mempertahankan dirinya sendiri dan menghasilkan medan magnet global. Medan itu menggembung ke luar membentuk magnetosfer yang luas — tertekan di sisi yang menghadap Matahari dan memanjang menjadi ekor panjang di sisi malam — yang membelokkan angin matahari, yaitu aliran partikel bermuatan yang dihembuskan Matahari melewati kita dengan kecepatan ratusan kilometer per detik.
Tanpa medan magnet ini, angin matahari secara bertahap akan mengikis atmosfer Bumi, seperti yang diduga terjadi pada Mars setelah dinamonya sendiri meredup. Magnetosfer juga memerangkap partikel berenergi tinggi dalam sabuk Van Allen yang berbentuk donat, dan mengarahkan sebagian lainnya menuju kutub, tempat partikel-partikel itu menabrak lapisan atas atmosfer dan menyalakannya sebagai aurora. Medan magnet ini tidak tetap: ia bergeser, melemah, dan sepanjang masa geologis telah berbalik polaritasnya secara penuh berkali-kali, sebuah sejarah yang terekam beku dalam batuan termagnetisasi di dasar laut.
Dunia lautan dengan langit yang dapat dihirup
Air cair menutupi sekitar 71% permukaan Bumi, dalam lautan dengan kedalaman rata-rata sekitar 3.6 km — ciri khas utama yang tidak dimiliki planet lain mana pun. Bumi berada dalam zona laik huni Matahari, cukup dekat sehingga air tidak membeku seluruhnya dan cukup jauh sehingga air tidak menguap habis, dan atmosfernya menyediakan tekanan serta pemanasan rumah kaca yang pas untuk menjaga suhu rata-rata permukaan tetap sejuk di sekitar 15 °C.
Atmosfer itu terdiri dari sekitar 78% nitrogen dan 21% oksigen, dengan sisanya yang kecil — karbon dioksida, uap air, argon — memberikan peran yang jauh lebih besar daripada proporsinya. Oksigen bebas itu sendiri merupakan jejak keberadaan kehidupan: ia dipompa ke udara oleh mikroba yang berfotosintesis selama miliaran tahun, dan jauh di atas, lapisan ozon yang rapuh yang terbentuk dari oksigen itu menyaring sebagian besar radiasi ultraviolet Matahari. Bumi, pada dasarnya, adalah planet yang secara nyata telah direkayasa ulang oleh biosfernya sendiri.
Hari, tahun, dan musim
Bumi berputar pada porosnya sekali setiap 23.93 jam relatif terhadap bintang-bintang — disebut hari sideris — sehingga menghasilkan hari matahari yang berdurasi hampir tepat 24 jam, dan menyelesaikan satu putaran mengelilingi Matahari dalam 365.256 hari. Sumbunya miring 23.44° dari garis tegak lurus, dan kemiringan itulah — bukan perubahan jarak dari Matahari — yang menciptakan musim: sepanjang tahun, setiap belahan bumi secara bergantian condong mendekati dan menjauhi Matahari, memperpanjang atau memperpendek durasi siang hari serta menaikkan atau menurunkan posisi matahari saat tengah hari.
Kemiringan ini tetap sangat stabil sepanjang skala waktu yang panjang, distabilkan oleh jangkar gravitasi dari Bulan yang berukuran tidak biasa besarnya. Kestabilan itu telah menyelamatkan Bumi dari ayunan iklim yang liar yang bisa ditimbulkan oleh sumbu yang bergoyang bebas — satu lagi kondisi tenang yang telah membantu kehidupan bertahan.
Satu Bulan berukuran besar
Bumi memiliki satu satelit alami, yaitu Bulan, dan ukurannya sangat besar dibandingkan planetnya — lebih dari seperempat diameter Bumi, rasio bulan-terhadap-planet terbesar di antara planet-planet utama. Bulan kemungkinan besar terbentuk sekitar 4.5 miliar tahun lalu ketika sebuah benda seukuran Mars menghantam Bumi yang masih muda dan melontarkan cakram puing ke orbit, yang kemudian menyatu membentuk Bulan yang kita lihat sekarang.
Gravitasinya membangkitkan pasang surut air laut, dan gesekan dari pasang surut itu secara perlahan mengerem rotasi Bumi sembari mendorong Bulan menjauh sekitar 3.8 cm setiap tahun. Selama ratusan juta tahun, itu berarti hari-hari di Bumi secara bertahap menjadi semakin panjang — sebuah pertukaran lambat yang terus berlangsung dan terekam dalam rotasi planet ini.
Mempelajari planet kita sendiri
Bumi adalah satu-satunya dunia yang dapat kita pelajari dari dalam, tetapi era antariksa juga menjadikannya objek pengamatan. Pandangan pertama tentang seluruh planet ini — foto Earthrise tahun 1968 dari misi Apollo 8 dan foto Blue Marble tahun 1972 dari Apollo 17 — membingkai ulang Bumi sebagai sebuah oasis kecil yang terbatas, dan turut membantu memicu lahirnya ilmu lingkungan modern. Kini, armada satelit mengamati Bumi secara terus-menerus, memetakan lautan, es, vegetasi, cuaca, dan perubahan iklim.
Bumi tetap menjadi titik acuan penting bagi ilmu keplanetan: setiap dunia lain yang kita jelajahi diukur berdasarkan massa, kerapatan, suhu, dan yang terpenting permukaannya yang hidup, dibandingkan dengan Bumi. Memahami apa yang membuat planet ini bekerja sebagaimana mestinya adalah tolok ukur yang kita gunakan untuk menilai seberapa langka — atau seberapa umum — dunia-dunia yang laik huni mungkin ada di luar sana.
Dalam angka
| Jenis | Planet |
|---|---|
| Mengorbit | Matahari |
| Radius rata-rata | 6,371 km |
| Massa | 5.972 × 10²⁴ kg |
| Jarak orbit rata-rata | 1.00 AU |
| Periode orbit | 1.0 thn |
| Periode rotasi | 23.9 j |
| Kemiringan sumbu | 23.44° |
| Inklinasi orbit | 0° |
| Suhu permukaan | Rata-rata ~15 °C |
| Catatan menarik | Satu bulan alami |